Beranda | Artikel
Iman kepada Allah: Pokok dari Segala Rukun Ibadah Hati
1 hari lalu

Iman kepada Allah: Pokok dari Segala Rukun adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 10 Rajab 1447 H / 30 Desember 2025 M.

Kajian Tentang Iman kepada Allah: Pokok dari Segala Rukun

Hakikat iman adalah mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Rabb yang diimani. Seorang hamba hendaknya mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengenal nama dan sifat Allah agar sampai pada derajat yakin. Keyakinan tersebut memiliki tingkatan, seperti ainul yakin dan haqqul yakin. Semakin tinggi tingkat keyakinan seseorang, maka semakin kuat pula tingkat istiqamahnya. Sebaliknya, keyakinan yang lemah akan memudahkan seseorang terpapar syubhat.

Saat seseorang semakin mengenal Allah, akan muncul rasa cinta, rasa takut, dan harapan kepada-Nya. Derajat keimanan seseorang selaras dengan tingkat pengenalannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Setiap kali pengetahuan tentang nama dan sifat Allah bertambah, bertambah pula keimanan kepada-Nya.

Metode Mengenal Nama dan Sifat Allah

Dalam mengenal nama dan sifat Allah, penting untuk memahami penjelasan para ulama. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara:

  • Mempelajari makna nama tersebut secara bahasa Arab.
  • Memahami penafsiran para ulama mengenai nama atau sifat tersebut.
  • Memahami konsekuensi serta pengamalan dari nama tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Semakin kurang pengetahuan seseorang tentang Allah, semakin berkurang pula kualitas keimanannya. Orang-orang yang menolak sifat-sifat Allah cenderung memiliki nilai ibadah yang kurang. Sebagai contoh, seseorang memohon ampunan karena memiliki keyakinan bahwa Allah Maha Pengampun. Adapun orang Asyairah yang hanya menetapkan 20 sifat. Tidak ada dalam 20 sifat itu Allah Pengampun. Juga kaum Jahmiyah yang menolak seluruh nama dan sifat Allah. Bagaimana akan minta ampun kepada Allah sementara tidak yakin Allah Maha Pengampun?

Jika seseorang tidak meyakini sifat-sifat Allah, seperti sifat ridha atau murka, maka ia akan sulit untuk sungguh-sungguh mencari ridha-Nya atau takut akan murka-Nya. Penyimpangan dalam memahami sifat Allah dapat menjatuhkan seseorang pada berbagai penyimpangan lainnya.

Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fatir[35]: 28).

Terdapat perbedaan antara khauf dan khasyah. Meskipun keduanya diterjemahkan sebagai rasa takut, khauf adalah rasa takut secara umum, sedangkan khasyah adalah rasa takut yang didasari oleh keilmuan yang dalam. Seseorang yang bukan ulama mungkin memiliki rasa takut kepada Allah, namun rasa takut tersebut dikategorikan sebagai khauf.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang betul-betul memiliki khasyah kepada Allah, yaitu takut dengan sebenar-benarnya takut, adalah para ulama yang mengenal-Nya.

Kesempurnaan ilmu seseorang tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala berbanding lurus dengan kesempurnaan imannya. Semakin sempurna pengenalan seorang hamba terhadap Rabbnya, semakin sempurna pula rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, predikat ulama pada hakikatnya disematkan kepada mereka yang memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang tidak layak disebut sebagai ulama jika tidak memiliki rasa takut, seperti tidak memedulikan batasan halal dan haram atau melakukan perbuatan yang melanggar syariat.

Salah seorang salaf meringkas makna ini dalam sebuah ungkapan:

مَنْ كَانَ بِاللَّهِ أَعْرَفَ كَانَ لَهُ أَخْوَفَ

“Semakin seseorang mengenal Allah, niscaya ia akan semakin takut kepada-Nya.”

Tujuan utama mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah untuk menumbuhkan rasa takut, cinta, dan harapan di dalam hati.

Ilmu tentang Allah sebagai Pokok Segala Sesuatu

Poin kelima menjelaskan bahwa berilmu tentang Allah ‘Azza wa Jalla adalah pokok dari segala sesuatu. Seseorang yang memiliki pemahaman mendalam tentang Allah dapat memahami suatu hukum melalui pendekatan nama dan sifat-Nya (Asma’ wa Shifat).

Sebagai contoh, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Dalam Al-Qur’an disebutkan:

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ ۖ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu dapat menguasai mereka; maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 34).

Ayat tersebut berkaitan dengan orang-orang yang berbuat keonaran di muka bumi. Penggunaan nama Al-Ghafur dan Ar-Rahim di akhir ayat mengisyaratkan suatu hukum bahwa pelaku yang bertaubat sebelum tertangkap tidak dikenai hukuman had tertentu karena Allah menutupnya dengan sifat pengampunan dan kasih sayang.

Setiap perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa sesuai dengan nama dan sifat-Nya. Perbuatan Allah tidak pernah keluar dari lingkaran keadilan (‘adl), karunia (fadhl), dan hikmah. Allah memberikan nikmat, hidayah, dan taufik sebagai bentuk karunia-Nya. Di sisi lain, Allah mengadzab suatu kaum sebagai bentuk keadilan-Nya.

Segala sesuatu yang diciptakan Allah tidak lepas dari hikmah yang agung. Oleh karena itu, Allah tidak menetapkan syariat dan hukum kecuali sesuai dengan sifat-Nya yang terpuji, hikmah, karunia, serta keadilan-Nya. Seluruh syariat Allah, termasuk perintah salat, mengandung hikmah mendalam yang menunjukkan bahwa Allah Maha Terpuji.

Download MP3 Kajian Tentang Iman kepada Allah: Pokok dari Segala Rukun Ibadah Hati


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55943-iman-kepada-allah-pokok-dari-segala-rukun-ibadah-hati/